Showing posts with label Literatur Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Literatur Kesehatan. Show all posts

Friday, July 24, 2015

Penyebab-Penyebab Hilangnya Pendengaran Pada Anak

Penyebab-Penyebab Hilangnya Pendengaran Pada Anak

Penyebab hilangnya pendengaran dapat di bagi ke dalam pengurangan transmisi getaran ke selaput telinga, "hilang pendengran konduktif", dan sebab karena kerusakan selaput telinga yang berhubungan dengan saraf atau otak, "hilang pendengaran sensorineural (saraf panca indra)".

Hilang Pendengaran Konduktif (HPK)

Ada di tiga bagian telinga yang harus di ketahui penyebab hilang pendengaran yaitu:

  • Telinga Bagian Luar, -lubang telinga dapat tersumbat oleh paraffin atau benda asing yang di masukkan ke dalam telinga. Hal ini menghambat suara masuk ke dalam gendang telinga. Biasanya akan mengakibatkan hilang pendengaran sebagian.

  • Gendang Telinga, -gendang telinga bisa saja berlubang di dalamnya, sering di ikuti oleh infeksi pada telinga bagian tengah. Jika lubangnya besar bisa mengurangi kemampuan untuk memindahkan tulang telinga bagian tengah untuk merespon suara dan dapat menyebabkan hilang pendengaran sebagian.

  • Telinga Bagian Tengah, -infeksi akut pada telinga bagian tengah sering menyebabkan anak-anak sakit, demam dan dapat mengganggu pendengaran. -infeksi kronis pada telinga bagian tengah sering menyebabkan gangguan pendengaran dan bisa menyebabkan kerusakan yang parah/keluar kotoran yang banyak dari lubang telinga. -rusaknya fungsi telinga pembuluh yang menghubungkan telinga  bagian tengah dengan bagian belakang tenggorokan, dapat terjadi "glue ear" (telinga bernanah) yang menyebabkan terjadinya kumpulan cairan dalam telinga bagian tengah. Hal ini biasanyan menyebbakan hilangnya pendengaran tapi tanpa rasa sakit atau demam. Infeksi telinga bagian tengah memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh seorang dokter dan dapat di obati, telingan bernanah bisa saja membutuhkan operasi.

Hilang Pendengaran Sensorineural (HPS)

Banyak penyebab hilangnya pendengaran sesorineural. HPS bawaan atau sejak lahir pada anak-anak di sebabkan oleh kedua genetik dan menimbulkan sebab. Hal ini bisa di hubungkan dengan kelainan-kelainan sistem ini. Penyebab bawaan sejak lahir ternasuk infeksi bawaan karena rubella dan obat-obtan yang di minum oleh ibu sewaktu hamil. Biasanya terjadi kerusakan permanen pada;
  • Selaput telinga, yang merubah getaran-getaran kedalam sinyal saraf.
  • Saraf pendengaran yang membawa pesan ke otak.
  • Bagian-bagian dalam otak yang bertanggung jawab untuk pendengaran.




0

Thursday, July 16, 2015

Pentingnya Kesehatan Pada Tubuh Anda

Pentingnya Kesehatan Pada Tubuh Anda

Kesehatan

Kesehatan adalah yang utama di bandingkan dengan kepuasan di bidang lainnya seperti; pekerjaan, kekuasaan, keberuntungan, nama yang terkenal, kekayaan dan kecantikan. Sebab tanpa derajat kesehatan yang baik, apapun yang di peroleh dan di hasilkan tidak akan dapat di rasakan oleh tubuh kita. Sungguh betapa nikmatnya sesuatu yang di rasakan bila tubuh kita terasa sehat dan bugar.

Orang sehat adalah orang yang bahagia, begitupun sebaliknya tiadak akan bahagia apalagi dalam kehidupan sehari hari selalu memikirkan dan mengejar duniawi tanpa melihat keadaan tubuhnya. Jadi bagi orang malang seperti ini maka kebahagiaan itu tidak dapat di raih dalam hidupnya. Hidup ini sungguh misterius, sehingga walaupun setiap orang tahu rasanya hidup, tidak seorang pun dapat menjelaskan dengan tepat apa arti hidup ini. Kendatipun demikian, kita semua memahami pentingnya Kesehatan bagi mutu hidup kita. Dengan mengetahui bagaimana tubuh kita bekerja, kita juga belajar tentang kondisi kondisi yang ikut menyebabkan tubuh gagal berfungsi dengan benar menjadi Penyakit. Atau harus belajar memahami kondisi kondisi tubuh kita bagai mana selalu bisa sehat di tiap hari harinya, ataupun setidaknya kita harus bisa merawat tubuh kita.

Untuk mendapatkan kesehatan yang optimal pada tubuh kita sekurang-kurangnya dapat di peroleh memalui dengan;
  • Asupan makanan yang sehat dengan empat lima sempurna.
  • Olahraga minimal seminggu sekali.
  • Istirahat / tidur yang cukup.
  • Konsumsi vitamin yang yukup untuk tubuh seperti omega dan multivitamin yang lainnya.

Kesehatan sangat penting, jadi didalam blog ini saya akan memberikan informasi informasi tentang kesehatan, penyakit, khasiat kegunaan tumbuhan, daun, buah untuk tubuh kita, Ilmu terapan tentang kesehatan organ tubuh sesuai dengan perkembangan jaman, vitamin, omega-3 serta lain-lainnya yang sanagt berguna untuk tubuh kita demi kelangsungan kehidupan.



0

Wednesday, July 15, 2015

Terbukti Perlawanan Bakteri Patogen Terhadap Anti-Biotik Pada Manusia

Terbukti Perlawanan Bakteri Patogen Terhadap Anti-Biotik Pada Manusia

http://artikelkesehatanpenyakit.blogspot.com/2015/07/terbukti-perlawanan-bakteri-patogen.html
Ini Masalah Kesehatan Dunia, Sejak awal penemuan oleh Alexander Fleming pada tahun 1928, antibiotik telah memberikan kontribusi yang efektif dan positif terhaadap kontrol infeksi bakteri pada manusia dan hewan. Namun sejalan dengan perkembangan dan penggunannya, banyak bukti dan laporan yang menyatakan bahwa bakteri-bakteri patogen menjadi resisten terhadap antibiotik. Resistensi ini menjadi masalah kesehatan utama di dunia.

Penggunaan antibiotik pada kesehatan manusia dan hewan akan menghantarkan munculnyamikroorganisme resisten, tidak hanya mikroba sebagai target antibiotik tersebut, tetapi juga mikroorganisme lain yang memiliki habitat yang sama dengan mikroorganisme target. Hal ini di mungkinkan karena adanya transfer materi genetik (Plasmid atau transposon) diantara genus bakteri yang berbeda yang masih memiliki hubungan dekat, meliputi bakteri Escherichia, Klebsiella, dan salmonella. Penggunaan antibiotik pada pakan hewan sebagai pemacu pertumbuhan telah mengakibatkan pertumbuhan bakteri yang resisten terhadap antibiotik yang umum digunakan untuk terapi infeksi pada manusia.

Cara kerja antibiotik sebagai bakterisidal ( membunuh bakteri secara langsung) atau bakteriostatik ( menghambat pertumbuhan bakteri) . Pada kondisi bakteriostatis mekanisme pertahanan tubuh inang seperti fagositesis dan produksi antibodi biasanya akan merusak mikroorganisme. Ada beberapa cara bekerja antibiotik terhadap bakteri sebagai targetnya, yaitu ;

  • Menghambat sintesis dinding sel.
  • Menghambat sintesis protein.
  • Merusak membran plasma.
  • Menghambat sintesis asam nukleat. 
  • Menghambat sintesis metabolit esensial.
Dinding sel bakteri terdiri atas jaringan makromolekuler yang di sebut peptidoklikan. Penisillin dan beberapa antibiotik lainya yang mencegah sintesis peptidoglikan yang utuh sehingga dinding sel akan melemah dan akibatnya sel bakteri akan mengalami lisis. Ribonson merupakan mesin untuk menyintesis protein. Sel eukariot memiliki ribosom 80S, sedangkan sel prokariot 70S (terdiri atas unit 50S dan 30S). Perbedaan dalam struktur ribosom akan mempengaruhi sintesis protein.

Diantara antibiotik yang mempengaruhi sintesis protein adallah kloramfenikol, eritromisin, steptomisin, dan tetrasiklin. Kloramfenikol akan bereaksi dengan unit 50S ribosom dan akan menghambat pembentukan ikatan peptida pada rantai polipeptida yang sedanng terbentuk. Kebanyakan antibiotik yang menghambat protein sintesis yang memiliki aktivitas spektrum yang luas. Tetrasiklin menghambat perlekatan tRNA yang membawa asam amino ke rantai polipeptoda yang sedang di bentuk terhambat. 

Antibiotik aminoglikosida, seperti streptomisin dan gentamisin, mempengaruhi tahap awal dari sintesis protein dengan mengubah bentuk unit 30S ribosom yang akan mengakibatkan kode genetik pada mRNA tidak terbaca dengan baik. Antibiotik tertentu, terutama antibiotik polipeptida, menyebabkan perubahan permeabilitas membran plasma yang akan mengakibatkan kehilangan metabolit penting dari sel bakteri. sebagai contoh adalah polimiskin B yang akan menyebabkan kerusakan membran plasma dengan melekat pada fosfilipid membran. Sejumlah anti biotik mempengaruhi proses replikasi DNA/RNA dan transkripsi pada bakteri. Contoh dari golongan ini adalah rifampin dan quinolon. Rifampin menghambat sistesis mRNA, sedangkan quinalon memhambat sistesis DNA.


Sumber : Rochman Naim
Dosen FKH dan Pascasarjana IPB

0

Potensial Protein NS3 Untuk Penyakit Hepatitis C

Potensial Protein NS3 Untuk Penyakit Hepatitis C

http://artikelkesehatanpenyakit.blogspot.com/2015/07/potensial-protein-ns3-untuk-penyakit.html
Protein NS3 (nonstruktural 3) adalah salah stu protein nonstruktural dari virus HVC yang mutlak diperlukan untuk replikasi dan perkembangbiakan virus itu sendiri. Protein ini unik karena sebagian berfungsi sebagi enzim protease dan sebagian lagi berfungsi sebagai enzim helikase. Untuk aktifitas hekikase, ada beberapa barisan asam amino yang berperan penting untuk aktifitas enzim di mana jika asam amino tersebut di ganti dengan yang lain aktifitas helikasenya akan hilang (Utama, 2000).

Begitu juga halnya dengan aktivitas protease, ada barisan asam amino yang berperan penting untuk aktivitasnya (Bazan, 1989). Artinya jika zat yang beriteraksi dengan barisan azam amino bisa di ketahui, aktivitas enzim dapat di tekan sehingga akhirnya perkembangbiakan virus HVC juga dapat di tekan dan membebaskan pasien dari inveksi virus HVC. Fungsi enzim protease adalah menguraikan poliprotein yang terdiri dari lebih kurang 3.000 asam amino yang di hasilkan dari translasi gen virus HVC (gambar.1).

Setelah terinfeksi ke dalam sel, gen virus akan terlepas dari sarangnya dan langsung ditranslasikan menjasi poliprotein yang tidak berfungsi. Poliprotein kemudian diuraikan oleh enzim protease menjadi protein-protein yang berfungsi. Sebagian berfungsi untuk pembentukan tubuh virus dan sebagian lain diperlukan untuk proses perkembangbiakan virus selanjutnya. Dengan demikian jelas bahwa enzim protease dari protein NS3 ini mutlak di perlukan untuk perkembangan biakan virus. Adapun fungsi enzim helikase adalah memisahkan pasangan gen yang dihasilkan dalam proses replikasi virus (gambar 2).

Dalam proses replikasi virus dalam sel, dari gen virus HVC yang terdiri dari benang RNA positif (positive strand RNA) akan terbentuk benang  RNA negatif (negative strand RNA) dan keduanya ini akan berpasangan. Dalam kondisi ini, gen tidak akan berfungsi apa-apa. Gen baru akan berfungsi setelah di pisahkan satu sama lainnya. Nah, untuk pemisahan ini di perlukan enzim helikase. Benang RNA yang di pisahkan dapat di gunakan selanjutnya untuk membentuk benag-benang baru dan produksi protein seperti ganbar 1. 

Jelas bahwa enzim helikase juga merupakan enzim yang mutlak diperlukan untuk perkembangbiakan virus. Dengan keunikan ini, protein NS3 menjadi target yang potensial untuk penemuan obat anti-HVC.  Usaha penemuan inhibitor protein NS3 ini banyak di lakukan , baik penemuan inhibitor protease maupun inhibitor helikase. Beberapa kandidat inhibitor di temukan, tetapi belum di buktikan keampuhannya secara klinis.

Sumber : Dr Andi Utama MSC
PPPB-LIPI, sekarang Postdoctoral fellow of japan Society for promotion of Science di Dept. of Virology II, National Institute of Infectius Diseases
0

Tuesday, July 14, 2015

Mekanis Perlawanan Bakteri Terhadap Anti-Biotik

Mekanis Perlawanan Bakteri Terhadap Anti-Biotik

Resistensi Antibiotik
Pada awalnya, problema resistensi bakteri tehadap antibiotik telah dapat di pecahkan dengan adanya penemuan golongan baru dari antibiotik, seperti aminoglikosida, makrolida, dan glikopeptida juga dengan modifikasi kimiawi dari anti biotik yang sudah ada. namun tidak ada jaminan bahwa pengembangan antibiotik baru dapat mencegah kemampuan bakteri patogen untuk menjadi resisten.
Bedasarkan hasil studi tentang mekanisme dan epidemiologi dari resistensi antibiotik telah nyata bahwa bakteri memiliki perangkat cara untuk beradaptasi terhadap lingkungan yang mengandung antibiotik. Mekanisme resistensi pada bakteri meliputi :
  • Mutasi
  • Penghambatan aktivitas antibiotik secara enzimatik.
  • Perubahan protein yang merupakan target antibiotik.
  • Perubahan jalur metabolik.
  • ekfluks antibiotik.
  • Perubahan pada porin chanel.
  • Perubahan permeabilitas membran.
Mutasi genetik tnunggal mungkin mnyebabnya terjadinya resistensi tanpa perubahan potogenitas atau viabilitas dari satu train bakteri. Perkembangan resistensi terhadap obat obat antituberkulos, seperti steptomosin, merupaka contoh klasik dari perubahan tipe ini. Secara teoretis ada kemungkinan untuk mengatasi resistensi mutuasional dengan administrasi suatu kombinasi antibiotik dalam dosis yang cukup untuk eradikasi infeksi sehingga mencegah penyebaran bakteri resisten orang ke orang. 
Namun, adanya emergensi yang meluas dari multidrug resistent mycobacterium tuberculosis memperlihatkan bahwa tidak mudah untuk mengatasi resistensi dengan formula kombinasi. Contoh lain resistensi mutasional yang juga penting adalah perkembangan resistensi fluoroquinolone pada stafilokokki, Pseudomonas aerugiosa, dan patogen lain mellaui perubahan DNA topoisomerase. Kejadian mutasi mungkin juga mengubah mekanisme resistensi yang ada menjadi lebih efektif atau memberikan spektrum aktivitas yang lebih luas. 
Problem yang cukup penting adalah kemmapuan bakteri untuk mendapatkan materi genetik eksogenus yang mengantarkan terjadinya resistensi. Spesies pada peneumokokki dan meningokki dapat "mengambil" materi DNA di luar sel (eksogenus)  dan mengombinasikannya ke dalam kromosom. Banyak bakteri genetik yang bertanggung jawab terhadap resistensi di temukan pada plasmid yang dapat di transfer atau pada transposom yang dapat disebarluaskan di antara bebbagai bakteri dengan proses konjugasi. Tranposon merupakan potongan DNA yang bersifat mobile yang dapat menyisip masuk ke dalam berbagai lokasi pada kromosom bakteri, plasmid atau DNA bakteriofag. 
Beberapa tranposom atau plasmid memiliki elemen genetik yang di sebut integron yang mampu "menangkap" gen gen eksogenus. Sejumlah gen kemungkinan dapat disisipkan kedalam integron yang menghasilkan resistensi terhadap beberapa bahan antimikroba. Mekanisme yang mirip mungkin terlibat dalam pembentukan elemen genetik yang mengode resistensi vankomisin pada enterokokki. Enterokokki yang merupakan komensal saluran usus dan genital, meningkat menjadi patogen di rumah sakit. Hal ini berhubungan dengan resistensi alami enterokokki terhadap antibiotik yang paling umum di gunakan dan kapasitasnya untuk memperoleh sifat resistensi melalui mutasi (penisilin) atau transfer gen resistensi pada plasmid dan transposon (aminoglikosida dan glikopeptida)

Sumber : Rochman Naim
Dosen FKH dan Pascasarjana IPB

0

Senyawa BILN 2061 Dari Protein NS3 Untuk Penyakit Hepatitis C

Senyawa BILN 2061 Dari Protein NS3 Untuk Penyakit Hepatitis C

Penyakit Hepatitis C
Dengan menggunakan teknik bioinformatika, tim dari Boehringer Ingelheim Pharmaceutical Inc mencari senyawa yang bisa berinteraksi secara efektif dengan asam amino yang esensial untuk aktifita enzim protease dari protein NS3. Mereka mensitesa beberapa senyawa yang diperkirakan efektif sebagai inhibitor enzim protease. Dari senyawa senyawa tersebut, di temukan bahwa BILN 2061 (gambar 3) adalah yang paling optimal (Lamarre et al. 2003).

Virus HVC yang biasanya menginfeksi manusia adalah tipe gen (genotipe) 1a dan 1b. BILN 2061 terbukti menghambat aktivitas enzim protease dari kedua tipe virus ini. Selain itu, BILN 2061 juga menunjukan tingkat spesifik tinggi, hanya menghambat aktivitas protease virus HVC saja tanpa mengurangi aktivitas protease lain dalam sel tubuh manusia.
Senyawa ini telah memasuki preclinical test, sampai saat ini BILN 2061 adalah satu-satunya kandidat obat Anti-HVC yang memasuki preclinical test. Dari hasil percobaan terhadap 10 orang pasien, ditemukan bahwa penanganan pasien dengan 200 mg BILN 2061 menurunkan level virus dalam plasma darah sampai jumlah yang tidak terdeteksi. Senyawa ini juga telah terbukti aman pada manusia samapai batas 2 g. 

Untuk pengembangan suatu obat, yang paling penting adalah efek obat tersebut terhadap gejala pasien. Hasil percobaan tim ini baru sampai pada pembuktian menurunnya jumlah virum dalam plasma darah pasien., belum sampai pada perubahan gejala pasien. Walaupun demikian penemuan BILN 2061 ini merupakan terobosan besar dan di harapkan dapat dikembangkan menjadi obat Anti-HVC sehingga bisa mngetasi PENYAKIT HEPATITIS C yang menjadi msalah global saat ini .


Sumber : Dr Andi Utama MSC
PPPB-LIPI, sekarang Postdoctoral fellow of japan Society for promotion of Science di Dept. of Virology II, National Institute of Infectius Diseases
0